Teks Foto: Kepala Dinkes Merauke, dr. Nevile Muskita. (ist)
Jakartarealtime.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) kabupaten Merauke memperkirakan kasus Tubercokulosis (TB) di Kabupaten Merauke, Papua Selatan, setiap tahunnya sekitar 2.000-an kasus.
Kepala Dinkes Merauke, dr. Nevile Muskita mengatakan bahwa dalam upaya menurunkan angka TB tersebut, pihaknya aktif secara langsung melakukan screening kepada masyarakat melalui Puskesmas Keliling (Pusling) dan berbagai kegiatan lainnya.
Dengan upaya tersebut diharapkan pasien TB bisa cepat ditemukan dan segera diobati sehingga lama-lama kasusnya menurun.
“Misalnya kita temukan, kemudian kita obati dan bisa memutuskan rantai penularan sehingga penularan di masyarakat itu bisa diputus,” ucapnya.
Selain turun langsung, dirinya menghimbau agar masyarakat berpartisipasi dan kerjasama jika ada keluarganya yang memang bergejala atau mungkin batuk yang tidak sembuh-sembuh kemudian ada gejala yang mungkin mengarah ke TB harus segera memeriksakan diri agar ketika diperiksa ternyata positif TB kemudian diobati agar tidak menularkan minimal ke keluarga dan juga tetangga disekitar.
“Sekarang kita di Tb itu ada pencegahan jadi misalnya ada keluarga yang positif TB, itu ada obat untuk pencegahan ke keluarganya meskipun keluarganya tidak positif saat diperiksa. Cuman terapi pencegahan itu masih informasi dari teman-teman di lapangan masih ada juga yang menolak dengan alasan kita tidak sakit kok minum obat, mungkin perlu edukasi lagi padahal itukan sebenarnya untuk pencegahan,” ungkapnya.
Terlebih, untuk pengobatan pasien TB yang cukup lama, keluarga harus berperan aktif dalam mengawasi pasien selama masa pengobatan.
“Itu wajib kita lakukan untuk pengawasan tapi pengawasan itu juga tidak harus dari kita saja tapi harus dari keterlibatan masyarakat. Contoh misalnya ada salah satu anggota keluarga yang sakit TB, berarti anggota keluarga lain punya kewajiban untuk juga mengawasi dia minum obat atau tidak, kalau waktunya obat mau habis untuk ngambil obat juga,” tandasnya.



