Jakartarealtime.id – Gubernur Provinsi Papua Tengah, Meki Nawipa menegaskan bahwa selama kepemimpinanya bersama Wakil Gubernur Papua Tengah Deinas Geley, tidak ada prosesi bakar batu.
Menurut mantan Bupati Paniai itu, prosesi bakar batu yang dilakukan oleh masyarakat bisa menghabiskan anggaran yang cukup besar.
“Uang yang digunakan untuk bakar batu itu, bisa dipakai untuk pembangunan di Provinsi Papua Tengah,” tutur Meki Nawipa, Jumat (28/3/2025).
Meki berkomitmen untuk tidak mengeluarkan anggaran hanya untuk prosesi bakar batu selama kepemimpinannya di Provinsi Papua Tengah.
Gubernur Papua Tengah, Meki Frits Nawipa mengungkapkan bahwa di masa pemerintahannya tidak akan ada prosesi bakar batu.
Uang yang dipakai untuk bakar batu, bisa digunakan membiayai pendidikan, kesehatan dan pembangunan rumah bagi masyarakat,” ujar Meki.

Meki mengajak masyarakat untuk bergotong royong bersama untuk membangun pelayanan pendidikan, kesehatan, dan infranstruktur jalan yang maksimal, sehingga bisa dinikmati oleh semua masyarakat di Provinsi Papua tengah.
“Budaya yang menguras tenaga dan uang kita tinggalkan. Saya ulangi lagi bakar batu kita stop,” paparnya.
Tradisi bakar batu bagi masyarakat Papua Tengah dan Papua Pegunungan, adalah pesta daging babi.
Tradisi bakar batu merupakan ritual memasak bersama warga satu kampung dengan tujuan mengucap syukur dan menjalin kebersamaan.
Namun sekarang di sejumlah tempat, pesta bakar batu sudah tidak lagi hanya daging babi, juga menyediakan daging ayam yang akan disuguhkan untuk mereka yang tidak bisa makan babi.
Tradisi Bakar Batu umumnya dilakukan oleh suku pedalaman/pegunungan, seperti di Lembah Baliem (Jayawijaya), Lanny Jaya, Nduga, Pegunungan Bintang, Tolikara, Yahukimo, Yalino di wilayah Papua Pegunungan dan Wilayah Papua Tengah seperti di Nabire, Paniai, Dogiyai, Deiyai, Intan Jaya, Puncak Jaya, dan Puncak.
Disebut bakar batu, karena benar-benar batu dibakar hingga panas membara, kemudian ditumpuk di atas makanan yang akan dimasak.



