Jakartarealtime.id – Konflik di Papua hingga kini belum mereda, Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) menyatakan siap berperang melawan Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Juru bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom mengatakan kelompoknya siap berperang bila pemerintah tidak segera mengakui hak kedaulatan Papua.
“Kami siap melakukan perang sampai dunia kiamat, jika negara Indonesia tidak mengakui hak kedaulatan orang Papua dan disampaikan kepada pejabat-pejabat orang Papua untuk hentikan aktivitasnya sebagai agen pembunuhan bagi orang Papua,” kata Sebby dalam keterangan tertulisnya, baru-baru ini.
Sebby memastikan, milisi TPNPB siap bertempur secara terbuka dengan prajurit TNI-Polri di Papua.
“Kami mendesak Indonesia untuk segera mengevakuasi warganya dari wilayah perang. Ini urusan kombatan dengan kombatan,” paparnya.
Sebby Sambom menyatakan bahwa deklarasi perang ini merupakan reaksi atas insiden penembakan terhadap warga asing yang terjadi di Kuala Kencana, Timika, Papua.
Menurutnya, penembakan tersebut dilakukan oleh personel militer Indonesia yang bertugas di daerah tersebut.
“Penembakan Pilot Glenn di Distrik Alama-Mimika dan orang asing lainnya serta orang Papua yang dibunuh oleh Militer Pemerintah Indonesia itu semuanya dilakukan demi uang,” tegasnya.

Ia menuding, selain uang, misi utama prajurit militer Indonesia melakukan penembakan itu adalah untuk menambah alutsista perang.
Menurut Sebby, insiden itu juga bertujuan untuk melindungi kepentingan perusahaan-perusahaan asing dan nasional yang beroperasi di Papua.
Sebby mengatakan, TPNPB-OPM akan tetap melakukan perang sampai pemerintah Indonesia bersedia membuka dialog internasional guna menyelesaikan konflik bersenjata di Papua.
“Oleh sebab itu selama perang masih terjadi. Disampaikan kepada semua orang imigran Indonesia untuk tinggalkan wilayah-wilayah konflik bersenjata di Papua,” tegasnya.
Kelompoknya, kata Sebby, telah mengetahui aktivitas intelijen militer Indonesia yang menyusup ke wilayah mereka.
Oleh karena itu, ia mengingatkan masyarakat Indonesia yang berada di daerah konflik untuk segera meninggalkan Papua.
“TPNPB di 36 Kodap setanah Papua telah mengetahui gerak gerik agen intelijen militer Indonesia yang memasuki wilayah konflik bersenjata. Maka warga imigran Indonesia diminta untuk keluar dari wilayah perang,” ucap Sebby.
Sebelumnya, Sebby juga mengumumkan pihaknya telah menetapkan sembilan wilayah di Papua sebagai zona perang milisi.
Sembilan wilayah di Papua yang dimaksud adalah Kabupaten Yahukimo, Pegunungan Bintang, Nduga, Puncak Jaya, Intan Jaya, Maybrat, Dogiyai, Paniai, dan Deiyai.
Pemerintah Indonesia didesak segera mengevakuasi warga di sembilan wilayah tersebut.
“Kami sudah peringatkan agar orang Indonesia tidak masuk ke wilayah tersebut,” ujar Sebby.
Sebby mengklaim OPM akan terus melakukan pertempuran hingga ke Kota Sugapa.
Oleh karena itu, ia menyarankan aktivitas sipil di lokasi tersebut untuk dihentikan sementara waktu.
Sementara itu, Kepala Penerangan Komando Militer (Kapendam) XVII/Cendrawasih, Candra Kurniawan menegaskan militer tidak akan menerapkan zona perang dalam menangani konflik di tanah Papua.
“Kami tidak menerapkan zona perang,” kata Candra.
Candra menegaskan, TNI akan berpegang teguh pada tugas, pokok, dan fungsinya terkait dengan pengamanan di wilayah Papua.
Dia memastikan TNI hanya berfokus untuk melayani, melindungi, dan mengayomi masyarakat.
Ia tidak menjawab ketika dikonfirmasi mengenai langkah yang akan dilakukan oleh TNI berhubungan dengan penetapan zona perang oleh TPNPB OPM.



