Teks Foto: Mahasiswa Katolik Universitas Cenderawasih Gelar Aksi Tolak Tambang Nikel di Raja Ampat. (ist)
Jakartarealtime.id – Sejumlah massa yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa-Keluarga Mahasiswa Katolik (UKM-KMK) Santo Alexander Universitas Cenderawasih menggelar aksi protes menolak pembangunan tambang nikel di Raja Ampat.
Demonstrasi itu digelar di Lampu Merah Waena, Kota Jayapura, Papua, pada Minggu (8/6/2025).
Ketua Umum UKM-KMK Santo Alexander Universitas Cenderawasih periode 2024-2025, Anthonius Semeya Turot mengatakan bahwa aksi tersebut merupakan bagian dari kegiatan Latihan Kepemimpinan (LK) Tingkat II yang diadakan oleh organisasi kemahasiswaan tersebut.
“Kegiatan ini bertujuan membentuk jiwa kepemimpinan dan sikap kritis kader mahasiswa Katolik, agar mereka tidak menjadi mahasiswa apatis, tetapi peka terhadap berbagai situasi di Papua,” ucap Anthonius.
Ia menegaskan bahwa aksi tersebut mencerminkan kepedulian mahasiswa terhadap pentingnya menjaga kelestarian alam Papua, khususnya Raja Ampat yang dikenal sebagai salah satu surga biodiversitas dunia.
Wilayah ini merupakan bagian dari segitiga terumbu karang dunia dan rumah bagi lebih dari 1.500 spesies ikan serta 75 persen jenis karang yang ada di bumi.
“Dalam kampanye ini, kami menyoroti ancaman tambang nikel di Raja Ampat. Di tengah upaya global melindungi lingkungan, justru muncul ironi: eksploitasi tambang mengancam tanah dan laut Raja Ampat,” jelasnya.
Anthonius juga menyoroti apa yang ia sebut sebagai “paradoks transisi energi di Indonesia”, di mana negara mengejar target nol emisi karbon tetapi tetap mengizinkan kerusakan lingkungan demi bahan baku energi hijau.
“Pendekatan ekstraktif ini mirip dengan ekonomi kolonial gaya baru: sumber daya dikeruk, masyarakat ditinggalkan, dan lingkungan rusak,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Sterling Committee, Erson Tapki Kalka, mengingatkan bahwa masyarakat adat di Raja Ampat telah menjaga hutan, laut, dan tanah secara turun-temurun.
“Mereka bukan penghalang pembangunan, melainkan penjaga terakhir benteng ekologi. Ketika tambang masuk, bukan hanya lingkungan yang rusak, tapi juga nilai, budaya, dan hak hidup masyarakat adat,” katanya.
Erson mendesak pemerintah pusat dan daerah agar lebih mendengar suara masyarakat adat daripada suara modal.
“Raja Ampat lebih berharga dijaga daripada ditambang, jika kita benar-benar ingin transisi energi yang adil, maka langkah pertama adalah menolak tambang nikel di Raja Ampat,” tuntasnya.



