Direktur YAPKEMA, Hanok Pigai Gelar Seminar ‘Bahaya Makanan dan Minuman Instan bagi Generasi Papua’

Must Read

Teks Foto : Direktur YAPKEMA, Hanok Herikson Pigai. (ist)

Jakartarealtime.id – Saat ini makanan instan peredarannya cukup marak di Indonesia.

Makanan tersebut dianggap tak sehat karena banyak mengandung bahan berbahaya dan pengawet.

Untuk itu, Yayasan Kesejahteraan Masyarakat (YAPKEMA) Papua kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap kesehatan masyarakat di wilayah Meepago dengan menggelar seminar bertajuk ‘Bahaya Makanan dan Minuman Instan bagi Generasi Papua’.

Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Katolik Santo Yohanes Pemandi, Waghete 2, dan dihadiri oleh Perwakilan gereja katholik dan Protestan.

“Banyak orang Papua sekarang, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, mengalami gangguan lambung, kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, gangguan ginjal, dan penyakit lainnya. Ini semua berawal dari pola makan yang salah. Rumah sakit di Nabire, Paniai, dan Deiyai serta puskesmas-puskesmas di wilayah ini mencatat pasien usia muda yang menderita penyakit berat,” kata Hanok Herikson Pigai, Direktur YAPKEMA, Selasa (29/4/2025).

Seminar ini menghadirkan tiga narasumber utama, yaitu Hubertus Takimai, Naomi Edowai, S.Kep., M.Kes., dan Wegobi Mareselino Pigai.

Ketiganya membawakan materi terkait dampak negatif dari konsumsi makanan dan minuman instan terhadap kesehatan masyarakat, khususnya generasi muda Papua yang kini mulai bergeser dari pola makan tradisional ke makanan modern yang tinggi zat aditif dan rendah nutrisi.

Hanok Herikson Pigai menegaskan bahwa kegiatan ini digelar sebagai respons atas meningkatnya angka kematian di kalangan masyarakat Papua akibat pola makan yang tidak sehat.

Menurutnya, pola konsumsi masyarakat Papua saat ini telah banyak dipengaruhi oleh gaya hidup instan.

Makanan tradisional yang dulu menjadi sumber gizi utama kini mulai ditinggalkan, digantikan oleh makanan olahan seperti sarden kaleng, mie instan, kopi dan susu dalam kemasan sachet, jus kemasan, hingga minuman energi.

Semua produk tersebut belum tentu cocok dengan sistem metabolisme tubuh orang Papua Melanesia.

“Satu hal yang penting untuk kita sadari bersama adalah bahwa Tuhan telah menciptakan manusia Papua dengan makanan pokok yang khas dan sesuai untuk tubuh kita. Sayangnya, kita mulai meninggalkan makanan tersebut dan beralih pada makanan instan yang datang dari luar. Kita tidak tahu bagaimana proses pengolahan makanan itu, apakah masih layak konsumsi, bagaimana batas kadaluwarsanya, dan apa kandungan gizinya,” tegasnya.

Melalui seminar ini, YAPKEMA ingin memberikan edukasi kepada masyarakat agar lebih selektif dalam memilih makanan dan minuman yang dikonsumsi sehari-hari.

Para narasumber memaparkan bahaya jangka pendek maupun jangka panjang dari konsumsi makanan instan, serta memberikan rekomendasi mengenai makanan lokal yang lebih sehat dan bergizi, seperti umbi-umbian, sayur-sayuran, dan buah-buahan lokal yang mudah dijumpai di Papua.

Teks Foto : Hanok Pigai. (ist)

Naomi Edowai, salah satu narasumber yang merupakan tenaga kesehatan, menjelaskan bahwa banyak kasus penyakit kronis yang ditemui di wilayah ini sebenarnya dapat dicegah jika masyarakat memiliki pengetahuan yang cukup tentang pola makan sehat.

“Saya banyak menangani pasien usia muda dengan penyakit kronis yang seharusnya tidak mereka alami di usia produktif. Penyebab utamanya adalah kebiasaan makan sembarangan, jarang konsumsi sayur dan buah, dan terlalu sering mengonsumsi makanan olahan yang tinggi pengawet dan garam,” jelas Naomi.

Wegobi Mareselino Pigai, narasumber lainnya, turut menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif masyarakat Papua untuk kembali mencintai dan mengonsumsi makanan lokal sebagai bentuk penghargaan terhadap kekayaan budaya dan sumber daya alam Papua.

“Kita punya makanan yang sehat, alami, dan bergizi. Kita hanya perlu menyadari nilainya dan kembali menghidupkan pola makan tradisional sebagai warisan leluhur yang juga menyelamatkan generasi masa depan,” kata Wegobi.

Sebagai penutup, Hanok Herikson Pigai berharap agar peserta seminar dapat menjadi agen informasi di lingkungannya masing-masing.

Ia mendorong para peserta untuk membagikan pengetahuan yang diperoleh kepada anggota jemaat, keluarga, dan masyarakat luas.

“Terima kasih kepada para narasumber yang sudah berkenan hadir dan berbagi ilmu. Saya harap, pengetahuan ini tidak berhenti di ruangan ini saja, tetapi terus dibagikan kepada orang lain agar masyarakat kita makin sadar dan sehat,” pungkas Hanok Paigai.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest News

Bertemakan Cinta, Diva Ramaniya Rilis Single ‘Tempat Berlabuh’

Teks Foto: Diva Ramaniya. (ist) Jakartarealtime.id - Penyanyi Diva Ramaniya resmi memulai langkahnya di industri musik Indonesia dengan merilis single...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img