Teks Foto: BMKG dan Kemenag melakukan pemantauan hilal 1 Ramadhan 147 H/2026 M di Hotel Waigo Splash, Sorong, Papua Barat Daya. (ist)
Jakartaraltime.id – Kementerian Agama (Kemenag) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, Geofisika (BMKG) menggelar pemantauan rukyatul hilal 1 Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi di Hotel Waigo Splash, Sorong, Papua Barat Daya.
Hasil pemantauan menunjukkan bahwa hilal tidak terlihat.
“Untuk hari ini potensi tidak teramati,” tegas Kepala BMKG Sorong, Dedy Irjayanto di Hotel Waigo Splash Sorong, Selasa (17/2/2026).
Berdasarkan pengamatan, Dedy menjelaskan, hilal masih berada di ketinggian minus 2,1098 derajat dengan elongasi 1,6325 derajat.
Sementara lag atau golden time berada pada minus 7,30 menit.
“Sehingga di sini hilalnya terbilang duluan dibandingkan dengan matahari. Untuk iluminasinya atau fraksi keterangan hilal itu di 0,04%,” ungkapnya.
Dedy menambahkan umur bulan baru mencukupi untuk pemantauan hilal pada Rabu (18/2).
Kendati begitu, pihaknya menunggu sidang isbat untuk penentuan 1 Ramadhan 1447 H.
“Tadi sudah dijelaskan di pemaparan bahwa besok (prediksi umur bulan mencukupi) sudah mencukupi. Tapi kembali lagi kita sambil menunggu sidang isbat,” ucap Dedy.
Diketahui, ada dua syarat utama agar hilal bisa dinyatakan terlihat berdasarkan kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapur).
Pertama, ketinggian hilal minimal 3 derajat di atas ufuk saat matahari terbenam. Kedua, elongasi atau jarak sudut bulan-matahari minimal 6,4 derajat.
Kriteria tersebut disusun berdasarkan hasil riset astronomi terbaru, mengingat posisi hilal pada ketinggian 2 derajat hampir mustahil terlihat.
Kriteria ini digunakan oleh Kementerian Agama (Kemenag) sebagai pedoman dalam sidang isbat penentuan awal Ramadan.



