Teks Foto: Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Papua Tengah, Frets James Boray. (ist)
Jakartarealtime.id – Pemprov Papua Tengah telah menetapkan serangkaian program prioritas untuk tahun anggaran 2026.
Fokus utama kebijakan ini mencakup dua pilar besar yakni, pemerataan akses listrik hingga ke wilayah perbatasan dan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) lokal melalui pelatihan vokasi.
Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Papua Tengah, Frets James Boray mengatakan, akan segera mereka laksanakan di tahun ini yakni, menggenjot pemasangan lampu listrik hemat energi menyasar di daerah pegunungan, seperti di Distrik Dewu dan Distrik Dovus, Kabupaten Puncak.
”Kedua distrik ini menjadi fokus utama karena letaknya yang berada di garis perbatasan antara Provinsi Papua dan Papua Tengah,” tegas Frets di Kantor Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Papua Tengah, Selasa (3/1/2026).
Lanjut Frets, Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Papua Tengah juga akan membangun fasilitas Penerangan Jalan Umum (PJU) di Kabupaten Puncak dan Deiyai, maupun Nabire.
“Tapi khusus Nabire, kita akan fokus pada daerah-daerah minim penerangan, maka kita terangi,” tegasnya.
Tak hanya itu, langkah jangka panjang juga dipersiapkan melalui penelitian Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) mikro hidro di Paniai, Puncak Jaya, dan Intan Jaya.
Kemudian pengembangan SDM melalui investasi di bidang pendidikan dan kesehatan bagi tenaga kerja lokal pada seluruh perusahaan beroperasi di Papua Tengah karena ini sifatnya wajib.
Selain itu untuk sektor ketenagakerjaan, dinas tersebut juga telah merancang program pelatihan vokasi intensif bagi anak-anak Asli Papua (OAP) untuk menekan angka pengangguran di Papua Tengah, sebab sesuai data terakhir pada Desember 2025, jumlah pengangguran di provinsi ini kini mencapai 14.000 orang.
Sementara pelatihan yang dimaksud seperti, Budidaya ikan air tawar, Keterampilan menjahit dan otomotif (perbengkelan).
“Setelah mereka dilatih, kami memberikan modal peralatan kerja, karena kami ingin mereka langsung praktik mengelola potensi yang telah di dapat secara mandiri mandiri,” pungkasnya.



