Teks Foto: Cuaca Ekstrem Picu Kenaikan Harga Tomat di Minahasa. (ist)
Jakartarealtime.id – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua mencatat inflasi year-on-year (y-on-y) pada September 2025 sebesar 0,99 persen.
Kenaikan ini terjadi karena pergerakan harga pada sejumlah komoditas utama kebutuhan masyarakat.
Kepala BPS Provinsi Papua, Adriana Helena Carolina, mengatakan inflasi tersebut membuat Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 103,91 pada September 2024 menjadi 104,94 pada September 2025.
Sementara inflasi month-to-month (m-to-m) sebesar 0,04 persen dan deflasi year-to-date (y-to-d) sebesar 0,68 persen.
“Sejumlah komoditas memberikan andil besar terhadap inflasi y-on-y di Papua. Di antaranya emas perhiasan, tomat, beras, bawang merah, dan kopi bubuk,” ucap Adriana di Jayapura, Jumat (3/10/2025).
Selain itu, lanjutnya, beberapa komoditas lain yang turut memicu inflasi yakni sigaret kretek mesin, minyak goreng, biskuit, ikan ekor kuning, dan roti manis.
Biaya sekolah dasar dan menengah, serta sewa rumah juga ikut menyumbang inflasi.
“Meski demikian, sejumlah komoditas lain justru menekan inflasi dan memberikan sumbangan deflasi y-on-y. Antara lain tarif angkutan udara, kangkung, ikan cakalang, buah pinang, daging ayam ras, serta bawang putih,” ucapnya.
Adriana menyebut, kelompok pengeluaran yang dominan menyumbang inflasi adalah makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,86 persen.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mencatatkan andil signifikan sebesar 0,55 persen.
Sebaliknya, kelompok transportasi menyumbang deflasi hingga 0,58 persen.
Sedangkan kelompok pakaian, alas kaki, serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan masing-masing menekan inflasi sebesar 0,04 persen.
“Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, inflasi Papua cenderung lebih rendah. Inflasi y-on-y September 2024 sebesar 0,82 persen dan September 2023 sebesar 1,28 persen,” pungkasnya.



