Teks Foto: Bonar Marpaung dan Priyagus Widodo. (mia)
Jakartarealtime.id – Pengacara kondang Hotman Paris Hutapea kini menjadi sorotan di Tanah Air, akibat pernyataannya yang kontroversi terhadap wartawan dan perihal menangani kasus korupsi.
Bukan hanya populer menangani kasus selebritis, hidup glamor, namun juga pernah menangani kasus-kasus besar di Indonesia.
Belakangan pengacara parlente yang pernah digosipkan menjadi suami artis Meriam Bellina ini tersandung masalah akibat dianggap telah menyerang dan merendahkan harga diri wartawan yang saat itu bertanya terkait kasus korupsi Jampidsus, Febrie Adriansyah yang ditangani Hotman Paris Hutapea.
Kasus itu berbuntut panjang, melalui PWI, Hotman Paris Hutapea dilaporkan ke Polda Metro Jaya, meskipun Hotman sendiri telah melakukan permohonan maaf secara terbuka.
Akibat arogansinya tersebut, masa lalu Hotman Paris Hutapea pun mulai dibongkar di lingkungan terdekatnya.
Mantan Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Bonar Marpaung, secara terbuka mengungkap dugaan pelanggaran berat yang dilakukan Hotman Paris Hutapea, bahkan menyebutnya sebagai ‘pengacara hitam’.
“Saya tahu betul siapa Hotman Paris Hutapea, dulu itu dia ngontrak di belakang rumah saya, kemana-mana naik vespa butut, dia bisa kaya itu awalnya karena kebaikan salah satu Hakim PN Niaga di Jakarta Pusat, dari situ dia mulai banyak dikenal dan bisa hidup berkecukupan, tapi sayangnya dia terlalu sombong dan merasa hebat,” kata Bonar Marpaung, saat menggelar Konferensi Pers di Hotel Cipta, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (22/7/2026).

Tak hanya itu, Bonar menceritakan perihal dunia hitam lawyer yang menjerat Hotman Paris Hutapea.
Latar belakang kejadian bermula setelah ia berhenti menjabat dan bekerja di Medco Group.
Kemudian perusahaan tersebut menjalin kerja sama dengan PT Kertas Nusantara, yang kemudian mengajukan permohonan pailit ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat pada tahun 2011.
Awalnya, Hotman Paris ditunjuk sebagai kuasa hukum PT Kertas Nusantara.
Namun, ia tiba-tiba menarik diri dan meminta stafnya untuk beralih bekerja di kantor hukum Jan Siregar.

Langkah ini menjadi awal terbongkarnya dugaan kelakuan yang tidak terpuji tersebut.
Bonar yang saat itu dipercaya pihak perusahaan, mengaku secara langsung mengantarkan sejumlah uang kepada Hotman Paris.
Dana tersebut berasal dari usaha patungan antara Medco dan PT Kertas Nusantara bernama Optima Resource.
“Uang itu diserahkan kepada Hotman Paris dengan tujuan untuk merekayasa jalannya perkara pailit PT Kertas Nusantara,” tegas Bonar Marpaung.
Ia melanjutkan, keputusan untuk membuka fakta ini diambil karena merasa tidak setuju dengan sikap Hotman yang kerap memamerkan diri sebagai pengacara hebat dan terbaik di negeri ini.

“Kalau memang ia pengacara hebat dan berintegritas, mana mungkin ia terlibat rekayasa perkara yang merugikan banyak pihak?” tegasnya menanggapi gaya hidup dan pernyataan Hotman yang sering menjadi sorotan.
Bonar menegaskan tidak menyebarkan tuduhan kosong atau fitnah, ia memiliki banyak bukti.
Seluruh apa yang ia sampaikan didukung bukti nyata, mulai dari dokumentasi penyerahan uang hingga foto sosok yang sebelumnya disebut Hotman sebagai asisten pribadinya, Baiti.
Ia juga menyatakan siap menghadapi segala konsekuensi hukum, termasuk jika Hotman Paris memilih untuk menempuh jalur hukum sebagai bentuk pembelaan diri.
“Saya sama sekali tidak takut, semua yang saya ucapkan adalah fakta dan memiliki bukti yang kuat, siapapun yang menentangnya dan saya tidak takut dengan Hotman, tolong anda jangan sombong ya,” jelas Bonar Marpaung.

Pengacara kondang lainnya Priyagus Widodo, mengatakan jika Hotman Paris Hutapea tidak boleh mengklaim dan membongkar rahasia kliennya.
“Apapun rahasia klien harus dijaga ada kode etiknya itu, tidak boleh Presiden diseret-seret ke masalah dia,” jelasnya.
Pengacara senior lainnya, Ferry Juan juga berharap Hotman Paris Hutapea harus bisa menghargai profesi lainnya dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan undang-undang yang berlaku di Indonesia.
“Profesi wartawan itu terhormat, bertugas sesuai fungsinya, kalau tidak mau jawab, katakan saja, tidak perlu menghina ‘gak punya otak’, karena dengan tidak menjawab itu jauh lebih elegan dan saya yakin betul wartawan yang bertugas sebagai kontrol sosial dan menjaga demokrasi itu tidak memaksa dan tidak akan melakukan kekerasan,” tegas Ferry Juan.
Tak hanya itu, Ferry Juan juga mengatakan jika Hotman Paris Hutapea harus bisa menghormati kepala negara.
“Apapun itu latar belakangnya, Presiden itu harus dihormati dan dijaga nama baiknya, apalagi ada undang-undang juga yang melindunginya, jadi jangan main klaim saja,” tandas Ferry Juan.



