Anggota Komisi XIII DPR Sebut Penyerangan KKB terhadap Guru dan Nakes di Papua adalah Pelanggaran HAM

Must Read

Jakartarealtime.id – Kasus dugaan penyerangan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) terhadap guru dan nakes di Papua hingga kini masih disorot masyarakat Indonesia.

Anggota Komisi XIII DPR RI, Ali Mazi mengecam aksi penyerangan yang dilakukan KKB terhadap guru dan tenaga kesehatan (nakes) di Yahukimo, Papua.

Ia menegaskan tindakan tersebut bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi juga termasuk pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).

“Ya itu kan dari Komisi III DPR melihat dari sudut pandang HAM dan kejahatan. Tentu yang namanya tindakan kejahatan kan merupakan suatu pelanggaran hukum, itu sudah pasti. Kita lihat juga hal itu merupakan pelanggaran HAM,” kata Ali kepada wartawan, Rabu (26/3/2025).

Ali menekankan pentingnya penegakan hukum yang efektif agar tindak kejahatan di Papua dapat diminimalisir.

Menurutnya, aturan hukum di Indonesia sudah cukup lengkap, tinggal bagaimana pelaksanaannya di lapangan.

“Di Indonesia semua aturan sudah cukup banyak, tinggal sekarang bagaimana kita menjalankan dan melaksanakannya, sehingga minimal kita bisa mengurangi tingkat kejahatan,” ucapnya.

Politikus Partai Nasdem itu juga menilai bahwa meningkatnya aksi kejahatan, termasuk yang dilakukan oleh KKB, bisa dipicu oleh faktor kebutuhan ekonomi.

“Biasanya tingkat kejahatan akan meningkat apabila ada kebutuhan-kebutuhan. Mungkin kebutuhan Lebaran ini kan banyak sekali, kan setiap manusia kan berbeda pikiran,” tegasnya.

Ali menyebut, tindakan KKB merupakan kejahatan yang harus ditindak sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia.

“Oleh karena itu, penegakan hukum penting juga untuk menindak. Bagi siapa yang melakukan pelanggaran kan harus ditindak menurut hukum apalagi itu sudah jelas,” tambahnya.

Kasus penyerangan KKB terhadap guru dan naskes di Papua. (ist)

Namun, ia mengingatkan bahwa dalam penanganan KKB, aparat keamanan baik TNI maupun Polri harus tetap memperhatikan aspek HAM.

“Tidak mungkin kan penegak hukum itu asal hajar saja. Harus dipastikan bahwa ini benar-benar melakukan kejahatan teroris dengan tentu dilakukan pembuktian dengan bukti-bukti dan saksi-saksi yang cukup,” kata Ali.

Menurutnya, aparat keamanan sudah bekerja sesuai tugas pokok dan fungsi (tupoksi) mereka, tapi tantangan di lapangan tetap besar.

Salah satunya adalah kesulitan membedakan antara masyarakat sipil dan anggota KKB.

“Kan mereka berbaur bersama masyarakat, nah itu yang menjadi kesulitan bagi aparat yang bertugas di sana, apalagi kalau kita bicara di sana lokasinya kan sangat sulit aksesnya. Apalagi masyarakat sipil, kemampuan untuk membedakannya sulit,” katanya.

Ali berharap penegakan hukum terhadap KKB dapat dilakukan secara tegas namun tetap berlandaskan prinsip HAM agar keamanan masyarakat di Papua tetap terjaga.

Sebelumnya, Kepala Operasi Damai Cartenz-2025, Brigadir Jenderal Polisi Faizal Ramadhani memberikan keterangan terkait hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) insiden penyerangan guru dan nakes yang dilakukan KKB di Distrik Anggruk, Yahukimo, Jumat (21/3/2025).

“Diketahui kelompok pelaku KKB berjumlah sekitar 15 orang yang menyerang guru-guru dan nakes di Distrik Anggruk,” tegasnya Selasa (25/3/2025).

Selain itu, KKB juga membakar dua unit rumah dinas guru dan merusak tujuh ruangan kelas.

KKB juga menganiaya serta membunuh seorang guru bernama Rosalia Rerek Sogen.

Menurut keterangan Faizal, korban meninggal dunia mengalami luka parah di tubuhnya.

“Di antaranya luka robek di leher, luka tusuk di pinggang, dan patah tulang terbuka di tangan,” jelas Faizal.

Serangan terhadap guru dan nakes di Papua disebut bukan kali pertama terjadi.

Pada Desember tahun lalu contohnya, seorang guru honorer asal Toraja dilaporkan menjadi korban pembunuhan TPNPB OPM di Kabupaten Puncak, Papua Tengah.

Sebelumnya pada Oktober 2023, OPM juga dilaporkan menyerang lima nakes di Distrik Amuma, Yahukimo.

Melihat fenomena itu, pengamat pendidikan dari Universitas Papua, Agus Sumule berkata bahwa para guru, nakes dan pelayan kemanusiaan lain kini “terjebak dalam konflik yang terjadi di Papua.”

“Bukan karena mereka guru, nakes ikut campur, tapi mereka melakukan kegiatan di lokasi-lokasi yang terjadi konflik bersenjata,” pungkas Agus.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest News

PAN Papua Tengah, Gelar Musda secara Serentak

Teks Foto: Ketua DPW PAN Provinsi Papua Tengah, Deinas Geley. (ist) Jakartarealtime.id - Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PAN Papua Tengah,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img