Memanas! Pasca Komandan IRGC Hossein Salami Tewas, Israel Gempur Pertahanan Udara di Ibu Kota Iran

Must Read

Teks Foto: Bangunan di Teheran mengalami kerusakan imbas serangan Israel (Majid Asgaripour/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS Purchase Licensing Rights).

Jakartarealtime.id – Peperangan antara Israel dan Iran semakin memanas.

Militer Israel mengatakan Angkatan Udaranya menargetkan pertahanan udara Iran dengan serangkaian serangan di wilayah ibu kota Teheran pada Sabtu (14/6) dini hari.

Salah satu target serangan Tel Aviv adalah infrastruktur rudal Teheran.

Serangan Angkatan Udara Israel (IAF) itu dilancarkan setelah rentetan rudal Iran menghujani negara Yahudi tersebut pada Jumat (13/6/2025) malam, membalas rentetan serangan Tel Aviv terhadap fasilitas militer dan nuklir Teheran pada pagi hari.

Sedikitnya 78 orang tewas di Iran akibat rentetan serangan Israel.

Sedangkan serangan rudal Iran dilaporkan merenggut dua nyawa di wilayah Israel.

“Pada dini hari, IAF menyerang puluhan target, termasuk infrastruktur rudal permukaan-ke-udara, sebagian bagian dari upaya untuk merusak kemampuan pertahanan udara rezim Iran di wilayah Teheran,” tegas Militer Israel dalam pernyataannya, seperti dilansir AFP, Sabtu (14/6/2025).

“Untuk pertama kalinya sejak dimulainya perang, lebih dari 1.500 kilometer dari wilayah Israel, IAF menyerang susunan pertahanan di area Teheran,” sebut pernyataan itu.

Pernyataan militer Israel itu disampaikan setelah laporan wartawan AFP menyebut kebakaran dan asap pekat mengepul di atas bandara Mehrabad, Iran, pada Sabtu (14/6/2025) dini hari.

Laporan media-media lokal menyebut rentetan ledakan terdengar di area ibu kota Teheran, saat Iran mengaktifkan pertahanan udaranya terhadap serangan yang datang.

Sebelumnya ramai diberitakan, Panglima Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), Mayor Jenderal Hossein Salami, tewas dalam serangan udara yang dilancarkan oleh Israel di Teheran pada Kamis, 13 Juni 2025.

Selain menargetkan Salami, serangan Israel juga merenggut nyawa dua ilmuwan nuklir terkemuka Iran, Fereydoun Abbasi-Davani dan Mohammad Mehdi Tehranchi.

Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, menegaskan akan memberikan balasan atas serangan tersebut.

“Dengan kejahatan ini, rezim Zionis telah mendatangkan nasib yang pahit dan menyakitkan bagi dirinya sendiri. Mereka pasti akan menghadapinya,” tegasnya dalam sebuah pernyataan.

Hossein Salami dilahirkan pada 1960 di Golpayegan, Provinsi Isfahan.

Ia bergabung dengan IRGC pada 1980, tepat di awal perang Iran-Irak.

Teks Foto: Panglima Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), Mayor Jenderal Hossein Salami. (ist)

Seiring waktu, ia berhasil naik pangkat dan memimpin divisi Karbala serta Imam Hussein ke-14, sebelum akhirnya menjabat sebagai pemimpin markas besar angkatan laut Nouh.

Setelah perang berakhir, Salami meraih gelar magister dalam manajemen pertahanan dari Sekolah Staf Angkatan Darat Republik Islam Iran.

Selain itu, Salami pernah menjabat sebagai kepala operasi di Staf Gabungan IRGC dari 1997 hingga 2005.

Pada April 2019, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, mengangkatnya sebagai panglima tertinggi IRGC dan memberinya pangkat mayor jenderal.

Sebagai komandan IRGC, Salami mengawasi salah satu lembaga militer paling berpengaruh di Iran, yang mencakup bidang intelijen, operasi siber, angkatan laut, angkatan udara, serta sekitar 200.000 tentara.

Di bawah kepemimpinannya, IRGC berhasil mengembangkan program rudal balistik Iran, yang pernah ia sebut sebagai alat untuk melawan kapal induk Amerika Serikat.

Dilihat dari laman Al Jazeera, seperti pejabat tinggi militer Iran lainnya, Salami juga dikenakan sanksi oleh Amerika Serikat pada 2007 akibat perannya dalam pengembangan rudal.

Sebelumnya, pada 2006, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun menjatuhkan sanksi dengan alasan yang sama kepadanya.

Selain itu, Kanada juga memberikan sanksi kepada Salami terkait perannya dalam menanggulangi protes anti pemerintah pada 2022.

Uni Eropa pun ikut menjatuhkan sanksi karena keterlibatannya dalam penyediaan drone untuk Rusia dalam operasi militer di Ukraina.

Selama memimpin IRGC, Salami memperkuat apa yang dikenal sebagai “Poros Perlawanan”, sekelompok negara sekutu dan kelompok di seluruh Timur Tengah yang didanai atau beroperasi dalam koordinasi dengan IRGC.

Kelompok-kelompok ini meliputi Suriah di bawah rezim Bashar al-Assad, Hizbullah di Lebanon, Hamas di Palestina, pemberontak Houthi di Yaman, serta kelompok Syiah sekutu di Irak.

Di bawah kepemimpinannya, IRGC juga berhasil mengembangkan berbagai kemampuan militer, termasuk intelijen, perang siber, angkatan laut, dan unit udara, dengan memimpin sekitar 200.000 tentara serta mendukung milisi-milisi regional yang menentang pasukan AS dan sekutunya.

Analis seperti Brett McGurk, mantan koordinator Timur Tengah untuk pemerintahan Biden, berpendapat bahwa kematian Salami dapat memperlambat respons militer Iran.

Meskipun IRGC mengakui kematian Salami, mereka menegaskan bahwa komando dan unit-unit militernya tetap siap untuk memberikan respons yang kuat.

Masa jabatan Salami juga diwarnai oleh insiden tragis penembakan jet penumpang Ukraina oleh Garda Revolusi, yang membuatnya meminta maaf.

Respon IRGC

Kepemimpinan Salami tidak hanya terbatas pada urusan militer, karena IRGC juga memiliki pengaruh besar dalam pemerintahan dan ekonomi Iran.

IRGC menggambarkan Salami sebagai komandan terhormat yang terlibat dalam berbagai upaya ilmiah, budaya, keamanan, dan militer, serta memuji dedikasi dan kesetiaannya kepada Pemimpin Tertinggi serta cita-cita Revolusi Iran.

Menurut laporan KTVZ, meskipun kehilangan sang komandan, IRGC telah menyatakan kesiapan untuk memberikan balasan yang tegas dan keras.

Para analis berpendapat bahwa kematian Salami, bersama dengan pejabat militer senior lainnya, dapat mengurangi kemampuan Iran untuk merespons serangan tersebut dengan efektif.

Pengganti Hossein Salami

Setelah kepergian Salami, Ahmad Vahidi diumumkan sebagai penggantinya.

“Pada level manusia, Anda akan memiliki kesenjangan pengetahuan saat Anda membunuh orang yang memutuskan strategi militer, fasih dalam banyak bahasa, memiliki jaringan pribadi dan karisma dalam rantai komando,” pungkas Manajer Program Timur Tengah dan Afrika Utara di Institute for War and Peace Reporting, yang dikutip dari Al Jazeera.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest News

Disutradarai Hanung Bramantyo, Film ‘Children of Heaven Versi Indonesia’, akan Tayang 27 Mei 2026

Teks Foto: Para Pemain Film 'Children of Heaven'. (ist) Jakartarealtime.id - Rumah produksi MD Pictures resmi merilis teaser poster dan...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img