Teks Foto: Hanok Herikson Pigai, Direktur YAPKEMA. (ist)
Jakartarealtime.id – Pemimpin dunia Gereja Katolik baru saja mencatat sejarah penting dengan terpilihnya Kardinal Robert Francis Prevost yang resmi terpilih sebagai Paus ke-268 pada 6 Mei 2025 dalam Konklaf Kepausan yang diselenggarakan di Kapel Sistina, Vatikan.
Mengambil nama Paus Leo XIV, Prevost menjadi Paus pertama dalam sejarah yang berasal dari Amerika Serikat (AS), menandai tonggak perubahan besar dalam Gereja Katolik Roma.
Direktur Yayasan Kesejahteraan Masyarakat (YAPKEMA) Papua, Hanok Herikson Pigai menyambut antusias terpilihnya Paus Leo XIV.
“Selamat atas terpilihnya Paus Leo XIV dengan gaya pastoral yang penuh empati dan rekam jejaknya sebagai pelayan umat yang sederhana, saya yakin banyak pihak optimistis terhadap masa depan Gereja di bawah kepemimpinannya,” kata Hanok Herikson Pigai, Direktur YAPKEMA, Jumat (9/5/2025).
Terpilihnya Robert Prevost sebagai Paus Leo XIV bukan hanya peristiwa religius, tetapi juga momen penting dalam sejarah dunia.
Sosoknya mencerminkan harapan akan Gereja yang lebih terbuka, inklusif, dan relevan dengan zaman.

Kini, dunia menantikan langkah-langkah nyata dari pemimpin baru Vatikan ini untuk menjawab tantangan global dan membawa pesan kasih yang universal bagi seluruh umat manusia.
“Semoga dengan kepemimpinan beliau bisa memberikan kontribusi yang terbaik bagi umat katolik di seluruh dunia dan mampu mengedepankan perdamaian dunia,” ucap Hanok Herikson Pigai yang merupakan tokoh pemuda dan adat.
Menurut Hanok, Paus sebelumnya meninggalkan legasi sebagai agamawan yang sederhana dan kakinya mengakar pada realitas sosial. Dalam kata dan tindakannya, Paus membawa terang Injil ke dalam dunia.
“Warisan Paus Fransiskus bukan sekadar panggung kenangan, melainkan api kemanusiaan untuk dilanjutkan, yakni sikap kepeduliannya pada Palestina dan kemarahannya pada genosida Israel, menyelamatkan dunia dari perang, ketidakadilan, krisis kemanusiaan, diskriminasi terhadap kelompok LGBTQ dan kerusakan lingkungan hidup yang masif,” ucapnya.
Paus Fransiskus dengan kata dan tindakan, mengajak gereja menjadi rumah sakit lapangan, bukan istana bagi orang yang sempurna dan berkelimpahan.
“Selamat datang Paus Leo XIV, semoga legasi Bapak Paus sebelumnya bisa dilanjutkan,” pungkas Hanok Herikson Pigai.
Siapakah sebenarnya Paus Leo XIV? Berikut deretan fakta menarik tentang pemimpin tertinggi Gereja Katolik yang kini menjadi sorotan global.

1. Lahir di Chicago dan Berkewarganegaraan Amerika Serikat. Robert Prevost lahir pada 14 September 1955 di Chicago, Illinois, Amerika Serikat. Dia dibesarkan dalam keluarga Katolik yang taat, dan sejak muda telah menunjukkan ketertarikan mendalam terhadap kehidupan religius.
Dirinya bergabung dengan Ordo Santo Agustinus (O.S.A) dan mengikrarkan kaul kekal pada tahun 1981, sebelum ditahbiskan sebagai imam pada 1982.
2. Latar Belakang Pendidikan dan Misi di Peru
Sebelum dikenal luas sebagai tokoh penting di Vatikan, Prevost mengenyam pendidikan tinggi di bidang filsafat dan teologi.
Dia memperoleh gelar lisensiat dan doktorat dalam hukum kanonik dari Universitas Kepausan Santo Tomas Aquino di Roma.
Setelahnya, dia dikirim sebagai misionaris ke Peru, di mana dirinya menghabiskan lebih dari satu dekade untuk melayani umat di daerah miskin dan terpencil, khususnya di Keuskupan Chulucanas.
Pengalamannya di Peru dianggap sebagai salah satu landasan kuat spiritualitas dan kepemimpinannya.
3. Menduduki Jabatan Strategis di Vatikan
Setelah kembali ke Amerika Serikat dan menjabat sebagai pemimpin Ordo Agustinus tingkat dunia, Prevost mulai dikenal luas oleh para pemimpin Gereja.
Pada 2014, Paus Fransiskus mengangkatnya sebagai Uskup Chiclayo, Peru.
Kemudian, pada Januari 2023, dia diangkat sebagai Prefek Dikasteri untuk Para Uskup, jabatan penting yang bertanggung jawab atas pengangkatan uskup di seluruh dunia.
Kiprahnya sebagai prefek memperkuat reputasinya sebagai administrator yang cermat dan rohaniwan yang rendah hati.
4. Terpilih dalam Konklaf 2025
Setelah wafatnya Paus Fransiskus pada April 2025, Konklaf Kepausan segera digelar untuk memilih penerusnya.
Prevost yang dikenal bersikap moderat, terbuka terhadap dialog antaragama, dan berpihak pada kaum tertindas, akhirnya terpilih secara mutlak oleh para kardinal elektor.
Keputusannya memilih nama Leo XIV diyakini sebagai penghormatan terhadap Paus Leo XIII, yang dikenal karena keterbukaannya terhadap modernitas dan keadilan sosial.
5. Komitmen terhadap Reformasi dan Keadilan Sosial
Dalam pidato publik perdananya sebagai Paus, Leo XIV menekankan pentingnya memperkuat suara Gereja dalam isu-isu kemanusiaan, seperti pengentasan kemiskinan, perlindungan lingkungan, pengungsi, serta dialog lintas agama.
Dia juga menyatakan akan melanjutkan reformasi Gereja yang telah dimulai oleh Paus Fransiskus, termasuk dalam transparansi keuangan Vatikan dan perlindungan terhadap korban pelecehan seksual oleh klerus.
6. Membawa Harapan Baru bagi Gereja Global
Sebagai Paus pertama dari Amerika Serikat, Leo XIV membawa simbol harapan dan perubahan.
Gereja Katolik yang selama berabad-abad dipimpin oleh orang Eropa kini mencerminkan wajah globalisasi dan keterbukaan.
Banyak umat Katolik di Benua Amerika merasa terdorong dan semakin dekat dengan Vatikan.
Di sisi lain, penunjukan ini juga dilihat sebagai bentuk pengakuan terhadap pertumbuhan komunitas Katolik di wilayah Selatan global.
7. Menjawab Tantangan Zaman
Paus Leo XIV menghadapi tugas berat di tengah dunia yang terus berubah.
Tantangan sekularisasi di Barat, konflik geopolitik, perubahan iklim, serta krisis kepercayaan terhadap institusi religius menjadi pekerjaan rumah besar yang harus dihadapi.



